Jaga Persaudaraan, Tokoh Poboya Serukan Perdamaian

PALU, SARARAMEDIA.ID - Di tengah proses hukum yang tengah berjalan terkait dugaan ancaman yang melibatkan dua jurnalis di Kota Palu, sejumlah tokoh masyarakat Kelurahan Poboya menyuarakan harapan agar persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui pendekatan dialogis, mediasi, dan musyawarah kekeluargaan.

Pandangan tersebut mencuat menyusul laporan dugaan pengancaman melalui pesan aplikasi WhatsApp yang melibatkan dua insan pers, yakni Moh. Nasir Tula dan Ikram. Perkara tersebut kini menjadi perhatian publik, khususnya masyarakat Poboya yang mengenal kedua pihak sebagai sesama jurnalis yang telah lama berinteraksi dan memiliki hubungan pertemanan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, polemik tersebut berawal dari perbedaan pandangan terkait pemberitaan mengenai aktivitas pertambangan rakyat di Kelurahan Poboya. Perbedaan perspektif dalam menyikapi isu tersebut kemudian berkembang menjadi komunikasi yang berujung pada pelaporan ke aparat penegak hukum.

Moh. Nasir Tula sebelumnya menjelaskan bahwa pesan yang ia kirimkan berangkat dari keprihatinannya terhadap penyebutan aktivitas tambang rakyat di Poboya yang menurutnya perlu dipahami secara lebih utuh dan proporsional.

Menurut Nasir, masyarakat yang menggantungkan hidup dari aktivitas pertambangan rakyat saat ini juga tengah memperjuangkan hak-hak mereka, termasuk terkait tanah ulayat yang selama ini menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat setempat.

Ia mengakui sempat terbawa emosi setelah merasa tegurannya tidak mendapat tanggapan sebagaimana yang diharapkan. Situasi tersebut kemudian berlanjut hingga menjadi persoalan hukum yang kini ditangani pihak berwenang.

Menanggapi perkembangan tersebut, Tokoh Pemuda Poboya, Thalib, mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan semangat persaudaraan dan mencari solusi yang dapat diterima bersama.

Menurutnya, setiap persoalan memiliki latar belakang dan sudut pandang masing-masing sehingga penyelesaiannya perlu dilakukan secara bijaksana tanpa memperkeruh keadaan.

"Kami berharap kedua pihak dapat duduk bersama dan menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik. Tidak perlu saling menyalahkan, karena yang paling penting adalah mencari jalan keluar yang membawa kebaikan bagi semua pihak," ujar Thalib di Poboya, Selasa (28/7/2026) kemarin.

Ia menuturkan bahwa harapan tersebut juga mencerminkan aspirasi sebagian masyarakat dan kalangan pemuda di Poboya yang menginginkan suasana tetap aman, harmonis dan kondusif.

Selain itu, Thalib juga berharap setiap pemberitaan yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan rakyat di Poboya dapat mengedepankan prinsip keberimbangan, akurasi, dan konfirmasi kepada seluruh pihak yang memiliki keterkaitan dengan persoalan tersebut.

Menurutnya, pemberitaan yang komprehensif akan membantu masyarakat memperoleh gambaran yang utuh serta meminimalkan munculnya kesalahpahaman di ruang publik.

Senada dengan itu, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Poboya, Yayan Sofyan, turut mendorong agar penyelesaian perkara dilakukan melalui mekanisme mediasi dan pendekatan kekeluargaan.

Ia menilai bahwa hubungan baik yang selama ini terjalin antara kedua pihak seyogianya dapat menjadi modal untuk membuka ruang komunikasi dan rekonsiliasi.

"Kami berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara damai dan kekeluargaan. Sepengetahuan kami, sudah ada upaya untuk membangun komunikasi serta menyampaikan permohonan maaf sebagai bentuk iktikad baik," kata Yayan di Palu, Rabu siang, (29/7/2026) waktu setempat.

Yayan juga mengajak semua pihak untuk melihat persoalan secara jernih dan proporsional, serta menghindari penilaian yang dapat memperlebar jarak antara sesama insan pers maupun masyarakat.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa masyarakat Poboya terbuka terhadap siapa saja yang ingin memperoleh informasi secara langsung mengenai kondisi sosial dan ekonomi warga, termasuk aktivitas pertambangan rakyat yang selama ini menjadi sumber penghidupan sebagian masyarakat.

Menurutnya, keterbukaan informasi dan komunikasi yang baik menjadi salah satu langkah penting untuk membangun pemahaman bersama serta menghadirkan informasi yang lebih menyeluruh kepada publik.

Lebih lanjut, Yayan menilai persoalan pertambangan rakyat di Poboya juga memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan pemangku kebijakan terkait, khususnya dalam aspek regulasi, pembinaan, dan kepastian hukum terhadap aktivitas yang telah berlangsung sejak bertahun-tahun.

Ia menyebut aktivitas pertambangan rakyat tidak hanya melibatkan warga Poboya, tetapi juga menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat dari berbagai wilayah yang menggantungkan kebutuhan hidup keluarganya pada sektor tersebut.

Karena itu, masyarakat berharap berbagai persoalan yang muncul, baik terkait aktivitas pertambangan maupun dinamika yang berkembang di ruang publik, dapat disikapi secara bijaksana melalui dialog, musyawarah, dan pendekatan yang mengedepankan kepentingan bersama.

Pada akhirnya, tokoh masyarakat, pemuda, dan unsur kelembagaan di Poboya sepakat bahwa perdamaian, komunikasi yang sehat, serta penghormatan terhadap proses hukum yang berlaku merupakan langkah terbaik dalam menjaga hubungan sosial, kondusivitas wilayah, dan semangat persaudaraan di tengah masyarakat. (***)


Comment As:

Comment (0)