
Ketua Umum KADIN Sulawesi Tengah, Ir. Gufran Ahmad menilai Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu harus menjadi hub utama penerbangan menuju Morowali dan Morowali Utara guna memaksimalkan manfaat ekonomi kawasan industri bagi masyarakat Sulawesi Tengah. (Foto: Istimewa)
PALU, SARARAMEDIA.ID - Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sulawesi Tengah mendorong adanya penataan ulang konektivitas transportasi udara menuju kawasan industri Morowali dan Morowali Utara. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat peran Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu sebagai pintu gerbang utama mobilitas orang, barang, investasi, dan perdagangan di Sulawesi Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Umum KADIN Sulawesi Tengah, Gufran Ahmad, yang menilai bahwa sebagai bagian dari wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Tengah, Kabupaten Morowali dan Morowali Utara seharusnya memiliki keterhubungan penerbangan yang lebih kuat dengan ibu kota provinsi melalui Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu.
Menurutnya, kondisi saat ini masih menunjukkan adanya ketimpangan konektivitas udara. Penerbangan menuju Morowali lebih banyak dilayani dari Kota Makassar dibandingkan dari Palu. Situasi tersebut dinilai menjadi perhatian serius karena berpotensi mengurangi dampak ekonomi yang semestinya dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat Sulawesi Tengah.
"Sebagai daerah yang berada dalam wilayah Sulawesi Tengah, Morowali dan Morowali Utara sudah semestinya terkoneksi secara maksimal dengan Palu. Saat ini penerbangan Makassar-Morowali bisa mencapai lima kali dalam sepekan, sementara rute Palu-Morowali hanya satu kali dalam seminggu, bahkan terkadang mengalami penundaan karena menunggu keterisian kursi. Ini merupakan sebuah anomali yang perlu menjadi perhatian bersama," ujar Gufran di Palu, Kamis malam, (13/8/2026) waktu setempat.
Ia menjelaskan, momentum penguatan konektivitas daerah semakin terbuka setelah Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu kembali melayani penerbangan internasional melalui rute Palu–Guangzhou yang dioperasikan oleh Garuda Airlines dan China Southern Airlines. Kehadiran rute internasional tersebut diyakini dapat menjadi pengungkit baru bagi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah.
Dari perspektif dunia usaha, status Bandara Mutiara Sis Al-Jufri sebagai bandara internasional harus dimanfaatkan secara optimal. Peningkatan frekuensi penerbangan dari dan menuju Palu diyakini mampu memperkuat posisi Kota Palu sebagai pusat distribusi logistik, perdagangan, jasa, dan investasi di kawasan timur Indonesia.
Selain memperkuat arus investasi, peningkatan konektivitas udara juga diproyeksikan memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor usaha lokal. Mulai dari pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), sektor perhotelan, restoran, transportasi, perdagangan, hingga jasa penunjang lainnya diperkirakan akan memperoleh manfaat dari meningkatnya mobilitas penumpang dan aktivitas ekonomi.
Gufran menegaskan bahwa keberadaan kawasan industri strategis di Morowali dan Morowali Utara harus mampu memberikan kontribusi yang lebih luas terhadap perekonomian Sulawesi Tengah secara keseluruhan, bukan hanya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang terhubung dengan daerah di luar provinsi.
"Kami ingin memastikan bahwa keberadaan kawasan industri di Morowali dan Morowali Utara benar-benar memberikan efek berganda bagi perekonomian Sulawesi Tengah. Dengan hadirnya penerbangan internasional Palu-Guangzhou, sudah saatnya Bandara Mutiara Sis Al-Jufri menjadi gerbang utama bagi seluruh aktivitas penerbangan yang berkaitan dengan kawasan industri di Sulawesi Tengah," tegasnya.
Lebih lanjut, KADIN Sulawesi Tengah berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, operator bandara, maskapai penerbangan, serta seluruh pemangku kepentingan dapat duduk bersama merumuskan strategi penguatan konektivitas udara yang berpihak pada kepentingan daerah.
Melalui penguatan jalur penerbangan Palu-Morowali dan Palu-Morowali Utara, KADIN meyakini pertumbuhan industri yang berkembang pesat di kedua daerah tersebut akan mampu menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi Sulawesi Tengah yang lebih merata, inklusif dan berkelanjutan. (***)