Rizal Intjenae Pacu Transformasi Lindu, Merawat Alam, Membangun Masa Depan
- By REDAKSI --
- Friday, 24 Jul, 2026
SIGI, SARARAMEDIA.ID - Festival Danau Lindu 2026 tidak sekedar menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi momentum strategis Pemerintah Kabupaten Sigi untuk menegaskan arah pembangunan daerah berbasis pariwisata berkelanjutan. Di hadapan ribuan masyarakat, tamu undangan, serta sejumlah pemangku kepentingan dari tingkat daerah hingga Internasional, Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae memaparkan visi besar menjadikan Danau Lindu sebagai ikon pariwisata unggulan yang mampu bersaing di tingkat Nasional bahkan Internasional.
Laporan crew liputan di lokasi menyebutkan, suasana pembukaan Festival Danau Lindu 2026 berlangsung semarak di kawasan tepian Danau Lindu, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, Kamis malam, (23/7/2026). Gemerlap panggung budaya yang menampilkan ragam kesenian tradisional berpadu dengan dentuman lesung khas masyarakat Lindu yang menjadi penanda resmi dibukanya festival tersebut.
Kegiatan itu dihadiri perwakilan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulawesi Tengah, akademisi, budayawan, tokoh adat, pelaku UMKM, serta masyarakat dari berbagai wilayah.
Dalam sambutannya, Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae menegaskan, bahwa Festival Danau Lindu merupakan bagian dari strategi besar pemerintah daerah dalam mengangkat potensi alam, budaya, dan ekonomi masyarakat sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, Danau Lindu memiliki seluruh prasyarat untuk berkembang menjadi destinasi wisata unggulan karena didukung kekayaan alam yang luar biasa, budaya yang masih terjaga, serta masyarakat yang memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan.
"Saya ingin setiap festival yang kita laksanakan ke depan mampu sejajar dengan festival-festival besar di Indonesia, seperti Festival Danau Toba. Karena itu saya mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun sektor pariwisata Kabupaten Sigi," ujar Rizal yang disambut tepuk tangan hadirin.
Dalam perspektif pemerintah daerah, pengembangan kawasan Danau Lindu tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kelestarian lingkungan. Kawasan tersebut berada di dalam wilayah Taman Nasional Lore Lindu yang telah dikenal sebagai salah satu kawasan konservasi penting dan memiliki nilai ekologis tinggi.
Bupati Rizal menegaskan bahwa pembangunan sektor pariwisata harus berjalan seiring dengan upaya konservasi alam. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga warisan lingkungan bagi generasi mendatang.
Ia menilai masyarakat adat Lindu selama ini telah menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan kelestarian hutan. Karena itu, pemerintah berharap perhatian pemerintah pusat terhadap kawasan konservasi dapat terus diperkuat agar kesejahteraan masyarakat meningkat tanpa mengorbankan keberlangsungan ekosistem.
"Pariwisata harus mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi alam tetap harus menjadi prioritas yang dijaga bersama," tegasnya.
Selain potensi alam, Bupati Rizal juga menyoroti pentingnya penguatan identitas budaya sebagai pembeda daerah di tengah persaingan destinasi wisata nasional.
Dalam forum tersebut, ia mengajak para akademisi, budayawan, dan tokoh adat untuk merumuskan identitas budaya khas Kabupaten Sigi yang dapat dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Rizal mencontohkan bagaimana Ondel-Ondel identik dengan Betawi, Angklung dikenal sebagai warisan budaya Sunda, serta Dero yang telah menjadi simbol budaya masyarakat Poso.
Menurutnya, Kabupaten Sigi juga memiliki potensi budaya yang layak diangkat menjadi identitas daerah, salah satunya tradisi Rego yang selama ini hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Melalui lokakarya budaya yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Danau Lindu 2026, pemerintah daerah mendorong adanya kajian akademik dan penguatan nilai budaya Rego agar dapat memperoleh pengakuan yang lebih luas.
"Harapan saya, ketika orang mendengar Rego, maka yang langsung terlintas adalah Kabupaten Sigi," kata Rizal.
Filosofi Pembangunan “Emas Hijau” ✓
Dalam pidatonya, Rizal juga memperkenalkan filosofi pembangunan yang kini menjadi arah kebijakan Kabupaten Sigi.
Ia menegaskan bahwa masa depan daerah tidak bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam yang merusak lingkungan, melainkan pada pemanfaatan potensi alam secara berkelanjutan.
"Sigi tidak membutuhkan emas kuning. Sigi membutuhkan emas hijau," ujarnya.
Istilah "emas hijau" yang dimaksud merujuk pada kekuatan sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Sebagai bentuk implementasi visi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sigi saat ini tengah mengembangkan program percetakan sawah baru seluas kurang lebih 800 hektare di Desa Olu. Program itu diharapkan mampu mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga terus mendorong pengembangan produk unggulan lokal, termasuk beras Kamba yang menjadi salah satu ikon dalam Festival Danau Lindu tahun ini.
Menurut Rizal, sektor pertanian, UMKM, dan pariwisata merupakan tiga pilar ekonomi yang saling terhubung dan harus tumbuh secara bersama-sama.
Penyelenggaraan Festival Danau Lindu 2026 menjadi bukti bahwa pengembangan kawasan wisata membutuhkan dukungan dan sinergi berbagai pihak.
Kehadiran perwakilan lembaga internasional, pemerintah pusat, Bank Indonesia, perguruan tinggi, pemerintah daerah tetangga, hingga komunitas budaya menunjukkan tingginya perhatian terhadap potensi Danau Lindu.
Bupati Rizal menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan festival tersebut. Ia meyakini kolaborasi lintas sektor akan membuka peluang promosi yang lebih luas sekaligus mempercepat pengembangan kawasan wisata berbasis masyarakat.
Menurutnya, festival bukan hanya ruang hiburan dan pertunjukan budaya, tetapi juga wadah bertemunya gagasan, investasi, inovasi, dan komitmen bersama untuk masa depan Lindu.
Menutup sambutannya, Rizal mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga warisan alam dan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Dengan mengucapkan basmalah, ia secara resmi membuka Festival Danau Lindu 2026 yang ditandai dengan dentuman lesung dan sambutan meriah masyarakat yang memadati arena kegiatan.
Momentum tersebut sekaligus menandai tekad Pemerintah Kabupaten Sigi untuk menjadikan Danau Lindu bukan sekadar destinasi wisata, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis lingkungan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
Sejalan dengan tema yang terus digaungkan selama festival berlangsung, Pemerintah Kabupaten Sigi optimistis Danau Lindu akan semakin dikenal luas sebagai destinasi unggulan Sulawesi Tengah dengan slogan yang kini mulai melekat di hati para pengunjung: "Ayo ke Lindu, karena Lindu Bikin Rindu." (***)
